Kekuasaan Allah yang Menjalankan Dimensi Waktu

Waktu sering dipahami dalam pengertian mengukur usia dan menyatakannya dalam makna menjadi lebih tua. Waktu selalu bertambah, tak pernah terjadi waktu berkurang. Baik secara kelakar maupun secara serius, banyak manusia yang merasa engan fisiknya menjadi tua. Banyak biaya rela dikeluarkan sebagai upaya untuk memperlambat datangnya ketuaan.

Pertambahan waktu takpernah dapat dicegah oleh kekuatan apapun yang dibuat oleh manusia. Berjalannya waktu merupakan kekuasaan Allah atas seluruh makhluk ciptaan-Nya di alam semesta ini. Waktu terasa bersfat mutlak yang tidak mungkin diubah manusia, namun pada sisi lain dapat terasa subjektif bergantung pada perasaan yang menjalaninya. Ada kalanya waktu terasa melenggang lambat, namun ada kalanya pula waktu terasa berlari kencang karena kesibukan dan janji-janji yang telah dibuat.

waktu

Sepintas, seolah waktu yang berperan dominan terhadap lingkungan atau alam semesta dan bukan sebaliknya, namun apabila dikaji lebih menjadalam akan tampak sebaliknya bahwa yang ditetapkan oleh keadaan alam. Bagaimana hal ini terjadi? Mari kita kembali pada uraian dimensi ruang sebelumnya. Akibat ledakan dahsyat, seluruh isi alam semesta dan seluruh materi bergerak terlempar menjauhi titik awal ledakan. Benda-benda yang terlempar tidak saja bergerak menjauhi titik ledakan, tetapi juga berputar pada sumbunya dan mengelilingi induk materi yang terakhir melemparkannya. Gejala ini termasuk dialami oleh bumi yang kita diami. Bumi berputar pada porosnya dari kutub utara sampai kutub selatan. Gejala ini disebut sebagai rotasi. Selain itu, bumi bergerak mengelilingi matahari sebagai induk materi terkahir yang melahirkannya. Karena bumi sangat kecil dibandingkan dengan ukuran matahari, pusat perputaran bumi mengelilingi matahari berada di dalamnya.

Akibat gejala rotasinya, setiap saat ada separuh bagian bumi yang menerima cahaya matahari sehingga terang dan separuh bagian lainnya terhalang tidak mendapatkan sinar matahari sehingga gelap. Bagian yang mendapat sinar matahari dirasakan penghuni bumi sebagai keadaan siang hari, sebaliknua pada bagian yang gelap dinyatakan sebagai malam hari. Peristiwa rotasi bumi selanjutnya dialami penghuninya sebagai perjalanan waktu sehari semalam atau 24 jam.

Peristiwa perputuran atau peredaran bumi mengelilingi matahari menjadi acuan manusia bagi pertukaran waktu satu tahun. Peristiwa ini membawa akibat perubahan yang dialami penghuni bumi sebagai pergantuan musim selama satu tahun. Kedudukan poros rotasi bumi yang miring pada bidang edar bumi terhadap matahari menyebabkan sebagian dari bagian bumi tidak merasakan perbedaan mencolok. Pada pergantian musimnya sehingga dianggap hanya memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan, didaerah berklim tropis seperti negara Indonesia. Di belahan bumi bagian utara dan selatan garis khatulistiwa, perganntian musm demikian kontras sehingga dapat diraskan adanya penggantian empat musim dalam setahun.

Perilaku makhluk bumi sangat dipengaruhi oleh iklim dan keadaan lingkungan setiap saat. Tidur di waktu malam hari, bangun dan melakukan berbagai kegiatan di siang hari. Di daerah khatulistiwa, lama waktu siang hamper sama sepanjang tahun, sedangkan di belahan bumi bagian utara maupun belahan bumi bagian selatan, lamanya perbedaan waktu siang dan malam sepanjang tahun cukup besar.

Tak ada satupun makhluk yang mampu mengelak dari pengaruh perjalanan waktu, tak ada satu pun makhluk di bumi ini yang mampu menghindar dari ketuaan, keausan, dan kehancuran fisik serta dari seluruh proses keberadaannya. Perbedaan keadaan setiap makhluk seolah bergantung pada waktu. Waktu seolah mempengaruhi perilaku dan cara hidup makhluk di daerah yang bersangkutan. Tumbuh-tumbuhan subur di musim penghujan, berbunga, dan berbuah pada saat tertentu merupakan sebagian kecil dari contoh apa yang diungkapkan sebelumnya. Pengalaman dan pengamatan telah mengungkapkan bahwa waktu ditetapkan oleh pergerakan bumi, planet, tata surya, dan benda-benda langit lainnya di alam raya ini.

Perjalanan waktu sebagai sunatullah merupakan batasan atas kekuatan dan kemampuan makhluk di alam semesta ini. Di ujung perjalanan waktunya, setiap makhluk akan mengalami kematian dan kehancuran, tidak ada satu makhluk pun yang abadi.

loading...

You May Also Like

About the Author: Muchlis

Mahasiswa Fisika UNM Makassar.

Leave a Reply